Info Sekolah
Rabu, 28 Jul 2021
  • Tema Akademi dapat menampilkan informasi dalam text berjalan

INILAH 7 PROGRAM WUJUDKAN SINERGI DIKSI DAN IDUKA

Diterbitkan : - Kategori : Artikel Umum

Jakarta, Ditjen Diksi – Langkah konkret dan kerja sama yang kuat berbagai pihak sangat dibutuhkan guna menciptakan SDM unggul untuk bersama membangun Indonesia maju. Demikian juga dengan program “link and match” yang terus digencarkan oleh Kemendikbud, yang membutuhkan konsistensi dan kerja keras, baik dari dunia pendidikan, industri maupun dunia kerja. Hingga akhirnya, lulusan dunia pendidikan dapat terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan tenaga kerja industri maupun dunia kerja. 

Salah satu peran strategis industri dalam rangka menyelaraskan kebutuhan tenaga kerja tersebut telah dilakukan oleh PT INKA (Persero), perusahaan negara yang bergerak dalam bidang manufaktur kereta api. “INKA punya kewajiban untuk membuat masyarakat sekitarnya juga profesional dan pintar. Cara INKA bagaimana mencoba membuka diri sebanyak-banyaknya siapa pun yang ingin tahu tentang ilmu, akan kami tularkan sebanyak-banyaknya, baik secara knowledge maupun profesional,” ujar Direktur Pengembangan PT INKA Agus Sedaju melalui diskusi webinar “Penandatanganan Kerja Sama dan Peluncuran Program Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI)” pada Senin (10/08).

Sebagai seorang yang menangani langsung SDM dalam sebuah industri, Agus turut menekankan pentingnya “link and match” dalam proses mempersiapkan SDM untuk industri. Ia pun berharap bahwa program ini dapat sepenuhnya dilakukan dengan kerja sama dua belah pihak. “Pemahaman ‘link and match’ yang penting itu sebenarnya adalah pemahaman mereka terhadap INKA. Itu tidak bisa dalam waktu yang singkat,” jelasnya. 

Menurut Agus, “link and match” dapat menumbuhkan ekosistem yang di dalamnya dapat saling bersinergi. “Salah satu ekosistem industri yang kami harapkan adalah tumbuhnya lengan-lengan industri di INKA yang dimotori oleh SMK. Kemudian dijembatani oleh politeknik yang ada di sekitar INKA, karena mereka yang lebih paham secara konsep dan teorinya,” paparnya.

Selain itu, Agus pun menjelaskan bahwa dalam sebuah industri terdapat beberapa tantangan ke depannya. “Tantanganya adalah bagaimana agar lebih cepat dari kemarin, lebih mudah dari kemarin, lebih unggul dari kemarin, dan lebih fleksibel,” tuturnya. 

Terkait permasalahan minimnya integrasi kurikulum pendidikan dengan kebutuhan dunia industri, Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan DUDI telah membangun tujuh program unggulan yang bertujuan menguatkan kapasitas kelembagaan pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja (IDUKA). Ketujuh program unggulan yang akan membantu memaksimalkan kegiatan “pernikahan massal” tersebut, yaitu Program Kemitraan Pendidikan Tinggi Vokasi (PTV) dengan IDUKA, Program Pengembangan Penilaian Mutu PTV Berstandar IDUKA, Program Penguatan dan Pengembangan Pusat Karir di Perguruan Tinggi Vokasi, Program Penguatan PTV dalam Melaksanakan RPL, Program Penguatan Humas PTV bagi Kemitraan IDUKA, Program Penyelarasan Kurikulum dan Sarpras PTV dengan IDUKA, dan Program Kampus Pendamping Kemitraan.

Wikan Sakarinto selaku Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi menjelaskan, keseluruhan program praktik baik dalam bentuk sinergi vokasi dengan industri mencapai 40 program. “Ini mungkin total hampir 40 program yang sudah kita rilis dari seluruh direktorat di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Totalnya sekitar Rp3,5 triliun, dan itu semua difokuskan untuk mendorong ‘link and match’,” ujarnya.

Wikan menambahkan, fokus “link and match” tersebut tidak hanya mengacu pada kebutuhan industri, namun juga untuk meningkatkan kualitas UMKM Tanah Air. “Konteks ‘link and match’ ini kan tidak hanya industri dan dunia kerja. Kita bisa melihat satu layer yang lebih luas lagi, yaitu bagaimana dengan UMKM, sehingga satu dari tujuh program yang kita luncurkan ini ada kerja sama dengan UMKM,” jelasnya. 

Sementara itu Direktur Politeknik Madiun Fajar Subhan turut menjelaskan tantangan dunia pendidikan yang harus cepat beradaptasi dengan perkembangan indusri yang bergerak pesat. “Tantangannya adalah bagaimana kami menduplikasi program ini kepada program studi lain. Karena tidak mudah menemukan perusahaan yang sepakat dan mendukung dengan apa yang kita lakukan,” tegasnya. 

Fajar berharap, program yang telah diluncurkan pemerintah ini dapat menjawab tantangan revolusi industri. Sehingga, kualitas Pendidikan Vokasi Tanah Air pun dapat terus ditingkatkan demi terciptanya lingkungan kolaboratif dan kondusif yang mampu meningkatkan keterampilan calon tenaga kerja. (Diksi/TM/AP)